Date Archives Juni 2019

Tradisi Galau di Masa SMA

“Masa SMA itu masa yang paling indah.”


Begitu kata kebanyakan orang. Tapi emangnya bener? Nggak juga, walaupun untuk kebanyakan orang masa SMA itu masa paling indah di hidupnya, tidak jarang juga gua temuin temen gua yang banyak kurang bahagianya daripada bahagianya. Ada juga yang kelewat bahagia.

Tapi bahagia itu apa?

Setelah mencari definisi bahagia di Google dan ngebukain satu-satu situs teratas — sekaligus baca — akhirnya berujung di Wikipedia. Menurut Wikipedia Kebahagiaan atau kegembiraan adalah suatu keadaan pikiran atau perasaan yang ditandai dengan kecukupan hingga kesenangan, cinta, kepuasan, kenikmatan, atau kegembiraan yang intens. Berbagai pendekatan filsafat, agama, psikologi, dan biologi telah dilakukan untuk mendefinisikan kebahagiaan dan menentukan sumbernya.

Jadi begitu lah yaa. Hahahaha. Serius, pasti kalian juga sependapat kan sama Wikipedia? Atau punya pendapat atau definisi lain tentang kebahagiaan? Oke untuk mendapatkan definisi lain tentang bahagia, gua tanya salah satu temen gua.

“Menurut gua ji, sesuatu yang dikerjakan dengan hati dan hasilnya sesuai dengan hati (sesuai dengan apa yang kita mau)” definisi bahagia menurut R.A orang yang namanya nggak mau dipampang di sini.(27/6)

Jadi gua simpulin bahagia itu jika kita mengerjakan sesuatu dengan hati dan menghasilkan keadaan pikiran atau perasaan yang ditandai dengan kecukupan hingga kesenangan, cinta, kepuasan, kenikmatan, atau kegembiraan yang intens.

Jadi kenapa masa-masa SMA itu jadi masa yang paling bahagia?

First things first. CINTA. 7 dari 10 anak SMA Indonesia mengalami gigi berlubang, maksudnya jatuh cinta. Tapi data yang gua sajikan itu menurut gua. Nggak 100% akurat, lagian juga data dari BPS juga nggak 100% akurat, eh tapi emang ada yang meneliti jatuh cinta anak SMA? Ada! Barusan baca Tirto.id dan nemu siapa yang neliti.

Dia adalah… jeng jeng jeng Carver K. melalui penelitiannya pada 2003 menemukan bahwa sebagian besar anak usia 15 tahun telah memiliki hubungan romantis dengan lawan jenisnya. Dua belas tahun kemudian, penelitian tersebut dikembangkan lagi oleh Amanda Lenhart, Monica Anderson dan Aaron Smith dari Pew Research.

Mereka meneliti 1.060 anak rentang usia 13-17 tahun di Amerika dan menanyakan ehem hubungan romantis a.k.a pacaran antara mereka dan teman-temannya. Dari 1060 anak 35% mengaku telah mempunyai hubungan romantis dan sisanya 65% mengaku belum pernah punya hubungan romantis.

Dan gua yakin mereka 35% anak itu pernah galau dan patah hati. Bagaimanapun ketika dua orang menjalin hubungan yang mengarah ke pengikatan hati atau kata lainnya saling memiliki pasti ada saatnya mereka merasa kurang puas dengan apa yang diberikan oleh pacarnya.

Alhasil galau lah mereka, terganggu fokus belajar dan hal lainnya. Tapi anehnya, mereka nggak pernah kapok dan selalu ingin lagi melakukan hal tersebut(pacaran). Motivasinya berbeda-beda, karena ingin punya teman yang selalu ada jika dibutuhkan. Padahal mah nggak gitu. Karena hanya ingin punya pacar saja, dalam hal ini status sosial. Karena stigma teman-temannya, dll.

Walaupun ada juga yang berhasil survive dari kegalauan dan menjadikan hubungan mereka jadi lebih baik lagi, tapi banyak juga yang berujung dengan salah satu dari mereka pergi, entah kemana. Maksudnya putus. Yang kadang membuat orang yang diputusin itu ngejar-ngejar dan galau setiap saat 🙁 sangat menyedihkan.

Itulah mengapa pentingnya mencintai diri sendiri seblum mencintai orang lain. Bahagia itu kita sendiri yang buat, bukan orang lain yang melakukannya untuk kita, memang sering kali orang yang kita harapkan begini malah begitu. Maka dari itu mulailah mencintai diri sendiri.

Pacaran dan menjalin hubungan romantis itu tidak salah, yang salah adalah menyalahkan keadaan karena tindakan diri sendiri. Apasih. Sebelum menjalin hubungan, ketahui dulu konsekuensi yang akan terjadi dan bagaiman pencegahannya. Kayaknya serius banget ya.

Bukan dalam hal pacaran saja. Dalam menjalani kehidupan ini, sebelum melakukan sesuatu pertimbangkan terlebih dahulu, apa yang akan terjadi jika lo ngelakuin hal ini, itu, bla, bla, bla. Tapi juga jangan peduliin orang-orang yang nggak penting dalam hidup. Atur prioritas dengan bijak.

Jadi sebelum menjalin hubungan serius atau tidak, pertimbangkan dulu yaa kawan-kawan.

(27/6)

Referensi
Tirto.id – Anak Tumbuh Remaja, Cinta Monyet pun Bersemi
Wikipedia – Kebahagiaan

Literasi dan Minat Baca

Dalam kegiatan berbahasa, ada empat keterampilan yang perlu dimiliki seseorang agar dapat berbahasa, antara lain mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Keempat hal tersebut tidak langsung bisa dikuasai, melainkan melalui 4 tahap. Pertama kali bayi dilahirkan, bayi melakukan kegiatan mendengarkan, berlanjut ke berbicara, membaca, dan menulis.

Keempat hal tersebut sangat berkaitan dengan kualitas dan tingkat budaya masyarakat. Kebanyakan orang sekarang, dapat tidur-tiduran dan duduk sepanjang hari untuk menonton video yang menghibur diri, tetapi tidak dalam hal membaca.

Fungsi, Manfaat, dan Tujuan Membaca

Orang membaca tentunya ingin mendapatkan sesuatu dari hal yang dibacanya, karena membaca punya fungsi, manfaat, serta tujuan. Secara umum membaca mempunyai fungsi untuk menyerap informasi dari bacaan yang dibaca. Bacaan yang baik akan memberikan manfaat yang baik pula, memberikan pengetahuan sekaligus pencerahan bagi pembacanya.

Setiap hari setiap saat orang selalu membaca, entah itu membaca teks pada iklan, status orang di media sosial atau bacaan ringan lainnya. Namun, bukan kegiatan membaca seperti itu yang dimaksud, melaikan membaca suatu teks dengan tujuan menggali manfaat dari teks yang dibaca tersebut.

Membaca itu menambah pengetahuan, gratis, dan bisa dilakukan oleh siapapun. Bidang ilmu itu cakupannya luas, semakin banyak orang membaca, semakin orang itu mengetahui bahwa masih banyak yang tidak diketahui.

Meningkatkanya minat baca juga akan meningkatkan SDM atau indeks kualitas hidup. Guru dan pustakawan merupakan ujung tombak dalam hal meningkatkan minat baca masyarakat. Perpustakaan dan sumber bacaan lain bukan hanya konsumsi pelajar dan mahasiswa. Tapi juga jangan salahkan guru dan pustakawan jika minat baca masyarakat kita kurang.

Mulai bercermin dari diri sendiri dan lingkungan sekitar, apa yang sudah kalian dan mereka lakukan untuk memajukan literasi di Indonesia?

Penyebab Rendahnya Minat Baca

Tradisi membaca bukanlah tradisi yang diturunkan oleh NENEK MOYANG kepada generasi sekarang. Masyarakat Indonesia punya banyak sejarah mengenai membaca, mulai dari masyarakat Jawa yang memang sudah sering disuguhkan tontonan wayang, hingga munculnya televisi.

Mengutip dari beberapa situs di Internet, ada setidaknya 5 hal yang menyebabkan kurangnya minat baca, pastinya pada saat ini yaa. Yaitu, lingkungan sekitar, apapun serba instant, gawai, game online dan media sosial, dan diri sendiri.

Lingkungan Sekitar

Lingkungan sekitar merupakan faktor yang sangat penting dalam kehidupan. Bukan hanya mempengaruhi minat baca seseorang, namun banyak dampak psikologi lainnya yang dipengaruhi hal ini. Jika lingkungan keluarga dan pertemananmu saja tidak gemar membacca, maka kita akan cenderung mengikuti arus tersebut.

Apapun Serba Instant

Ngerasain gak sih, kalo dulu kita ngerjain PR yang dikasih guru itu harus ngebolak-balik buku pelajaran untuk dapetin jawabannya. Bayangkan sekarang, untuk menemukan jawaban kita tinggal cari di Internet, Google dan teman-temannya akan menyediakan beribu jawaban, kita tinggal salin jawaban tersebut mentah-mentah.

Gawai

Mungkin bagi beberapa orang, terutama yang ehem jarang membaca akan asing dengan kata gawai. Gawai adalah kata lain dan lebih manusiawi dari Gadget. Sudah tidak perlu dijelaskan lagi poin ini, yang jelas masyarakat sekarang lebih suka mengonsumsi gawai beserta aplikasi yang ada di dalamnya dibandingkan buku fisik.

Game Online

Masih berkaitan dengan poin di atas, game online punya peran besar dalam mempengaruhi minat baca. Walaupun game juga mempunyai dampak positif, tapi kembali lagi ke diri kita masing-masing, apa tujuan kita bermain game.

Diri Sendiri

Nah, ini yang terpenting, keempat faktor di atas itu tidak akan menjadi masalah jika diri kita punya keinginan membaca yang kuat. Jika lingkungan sekitar menyarakankan kita untuk membaca, apapun yang serba instant kita hiraukan, gawai dan game online jarang kita buka, tapi kalau diri sendiri malas membaca, mau diapain?

Jadi sebelum menyalahkan faktor eksternal, periksalah diri sendiri dulu, apakah kita mempunyai keinginan membaca atau tidak. Gua harap kalian tercurahkan hatinya setelah membaca tulisan ini.

Referensi
Darmono. 2001. Manajemen Perpustakaan Sekolah. Jakarta: Grasindo.
Penyebab Kurangnya Minat Baca – Gramedia.com