Date Archives Februari 2021

Dua Minggu Tidak Berkegiatan

Dua minggu semenjak divonis positif Covid-19 sudah berlalu. Sekarang adalah hari ke 16 sejak hari itu, yang mana pada hari ini saya melakukan rapid test untuk mengecek apakah virus yang ada di tubuh ini masih reaktif. Tapi bukan itu yang saya ceritakan, melainkan apa yang saya lakukan selama dua minggu karantina mandiri.

Saya benar-benar tidak keluar rumah, keluar hanya untuk berjemur dan olahraga sedikit di pagi hari, walau lebih sering cuacanya mendung. Untuk menjemur handuk setelah mandi, yang digantung jauh dari jemuran lainnya. Makan disediakan oleh my beloved mom. Tiap sehabis makan, saya langsung cuci piringnya dan taruh di tempat di mana semua piring itu kusus untuk saya, begitu juga gelas.

Pakaian yang saya kenakan selama dua minggu dicuci secara terpisah dan ditaruh di kasur tempat saya tidur. Kasur saya memang cukup luas, sehingga tidak ada meja dan kursi di kamar, semuanya dilakukan di kasur. Namun ada ruang tersendiri di kasur untuk saya tidur.

Setiap hari saya latihan mencium (mengendus) bau-bauan, minyak wangi, deodoran, fresh care, dan semua yang baunya menyengat enak. Bukan yang tidak enak, siapa yang mau mencium bau tidak enak?

Seminggu pertama, saya benar-benar tidak produktif. Karena memang kondisinya lumayan… aneh? Makan tidak enak, penciuman tidak bisa. Rasa asin menjadi pahit, dan masam rasanya aneh sekali, saya hanya dapat mengecap rasa manis. Semua itu menjalar ke otak dan membuat mood saya berantakan, ditambah batuk yang kadang-kadang tidak reda dan pusing tiba-tiba.

Namun agenda UKM kampus tetap jalan, walau sambil batuk-batuk dan setengah niat untuk saya jalani. Begitu juga pekerjaan saya mengajar eskul di sekolah lama saya yang dilakukan secara daring. Saya bolak-balik minum air putih untuk meredakan batuk saat sedang berbicara. Kalau sedang diam, ya tidak batuk.

Minggu pertama telah dilalui, hari-hari seperti biasa, berjemur di pagi hari dan seharian di kamar. Main game, baca apa saja yang bisa dibaca, kecuali buku, entah mengapa aneh rasanya otak ini saat mata tidak mengenai cahaya saat membaca. Pantulan cahaya buku rasanya tidak cukup. Namun buku wajib dibaca setiap hari minimal 15 halaman.

Kesimpulannya, mengidap Covid-19 itu tidak enak, saya hidup menggunakan indera penciuman dan perasa, dan saat 2 minggu pertama, itu semua tidak ada, jadi menjalar ke segala kegiatan, ditambah batuk kering. Rasanya tidak enak sekali, lagi pula sakit memang tidak enak.

Kondisi sekarang? Rapid test menunjukan garis IgC pekat dan IgG sedikit kabur. IgM menandakan, virus masih ada di tubuh saya, namun saya anti bodi sudah terbentuk, yang mana virus tersebut ya masih ada, lain waktu akan kambuh jika saya tidak menjaga kesehatan. Untuk menular, saya tidak yakin, di situs web alomedika.com, kemungkinan masih menular. Biasanya setelah sebulan terinveksi, baru tidak menular.

Semoga tidak terjadi apa-apa kepada orang di sekitar saya.

Salam sehat.

Finally Come

Hari yang tidak diinginkan akhirnya datang juga, hari yang semua umat di dunia ini menghindarinya. Hari itu adalah hari Kamis tanggal 28 Januari 2020, hari di mana saya dinyatakan positif Covid-19 yang sudah saya duga semenjak saya sakit beberapa hari.

Dimulai pada hari Senin 26 Januari, kondisi tubuh saya memang sudah tidak enak, keesokannya 27 Januari, benar saja, saya jatuh sakit, demam yang lumayan tinggi dan pusing sekali. Saya kira, ini hanyalah demam biasa, saya langsung sigap ke dokter untuk konsultasi, dokter menyatakan bahwa saya radang.

Selama dua hari, saya melakukan penyembuhan total, meminum semua obat secara rutin, dan mengkonsumsi semua yang sekiranya dapat membantu sembuh. Esoknya, saya pulih 70%.

Namun, ada hal yang aneh, indera penciuman dan perasa saya tidak berfungsi dengan. Saya coba menghirup banyak bebauan, dan mencoba mengecap beberapa makanan, rasanya sama, hambar, pahit, tidak berbau. Lalu, jantung saya berdegup agak kencang, apakah benar saya…? Ah tidak, mungkin hanya anosmia biasa pikir saya.

Siangnya, saya sedang mengobrol seperti biasa dengan pacar saya melalui WhatsApp, ia khawatir dengan kondisi indera saya kemudian menyuruh saya untuk tes usap (Swab) sekarang juga. Saya pikir, hal ini juga perlu dilakukan mengingat salah satu ciri dari orang yang terpapar Sars-Cov-2 adalah kehilangan indera penciuman dan perasanya.

Lalu saya bilang kepada orang tua saya bahwa saya ingin melakukan tes Swab, mereka mengiakan. Lalu saya berangkat bersama teman saya, ke klinik terdekat yang bisa melakukan tes Swab atau Rapid antigen.

Di jalan saya berdoa, semoga dugaan saya salah, dan saya baik-baik saja. Namun kenyataan berbalik dari harapan, setelah dites, saya dinyatakan positif Covid-19. Saya tersenyum, suasana hati saya campur aduk, tanpa rasa senang sama sekali. Pusing, menyesal, bersalah, bingung, panik, namun senyum yang saya lakukan, menerima keadaan dan memikirkan agar saya tidak menularkannya kepada orang lain.

Percuma saya bilang, saya sudah taat protokol, walau kadang memang sedikit bandel, tapi ini lah hasilnya, saya terima. Mungkin ini sebuah teguran dari Tuhan agar saya menjadi lebih baik lagi, mungkin ini adalah buah dari kesalahan yang pernah saya lakukan, mungkin.. ini adalah pembuktian dari pikiran saya yang selama ini salah.

Sekarang, saya ada di daftar 1 juta orang Indonesia yang dinyatakan positif Covid-19. Daftar yang bisa dikatakan sedikit dibanding dengan banyaknya penduduk Indonesia. Namun, saya adalah bagian dari mereka. Saya tidak berusaha untuk mencari orang atau hal untuk disalahkan, ini murni kesalahan saya, selama ini saya lumayan sering keluar rumah untuk nongkrong, seminggu sekali.

Sekarang, kembali lagi di rumah saja, melakukan karantina mandiri, mencuci pakaian dan piring bekas makan sendiri, menyemprotkan disinvektan sehabis menyentuh barang apapun yang ada di rumah.

Saya tidak kawatir akan diri saya, namun orang di rumah, kedua orang tua saya. Papah yang juga dari kemarin sedang tidak enak badan, namun ia beda cerita, ia sakit lambung, bukan yang lainnya. Mamah yang setiap hari membelikan makan dan kebutuhan saya. Saya ingat betul, saat sakit sebelum saya dinyatakan positif Covid-19, beliau lah yang menemani saya tidur dan memegang tangan saya dengan erat.

Sedih rasanya bahwa saya tahu, saya malah membawa virus ini masuk ke dalam rumah. Maaf, Mah, Pah.

Jika ditanya keadaan, saya baik-baik saja, di saat tulisan ini ditulis, saya sudah pulih 99%, kadang masih batuk, namun indera saya tak kunjung pulih. Pulih, hanya sedikit, sekitar 30%. Sudah dapat merasakan sedikit makanan enak. Terakhir, saya beli corndog, ini juga efek nonton drakor Startup. Rasanya tidak seenak seperti masih sehat, namun saya tetap telan dan menikmatinya seperti orang sehat. Saya memang sehat, dan tidak mau dikatakan sakit.

Karena memang seperti itu kenyataannya. Semoga saya tidak membebani orang-orang di sekitar saya, terutama yang terdekat, Mamah, Papah, Hilda. Entah itu beban pikiran atau apapun, maafkan saya.