Date Archives Maret 2021

Dewa Kipas Tidak Pantas Didewakan

Belakangan ini, dunia perhelatan catur sedang ramai-ramainya karena kasus Dewa_Kipas. Akun Dewa_Kipas dibekukan (banned) oleh pihak Chess.com karena terindikasi curang. Kebetulan sekali, akunnya dibekukan tepat setelah melawan Master Internasional Levy Rozman, yang mana Ia adalah tokoh yang lumayan terkenal di Internet, seorang streamer catur dan juga guru catur di Internet yang punya massa banyak.

Melihat hal ini, Ali Akbar, anaknya yang punya akun Dewa_Kipas Dadang langsung melihat peluang, ada bahan drama besar yang bisa sampai internasional. Lalu dibuat lah serangkaian narasi sesat yang menuduhkan Levy Rozman lah yang menyebabkan akun Dewa_Kipas dibekukan oleh Chess.com.

Membaca narasi ini, warga net Indonesia langsung bersimpati dan ramai-ramai menyerah Levy Rozman di berbagai akun media sosialnya. Keesokannya, Levy melakukan permintaan maaf secara langsung kepada Ali melalui Facebook Messenger. Warga net Indonesia pun masih geram karena tidak puas dengan permintaan Levy yang tidak dilakukan secara publik tersebut.

Singkat cerita, Levy mengetahui fakta bahwa akun Dewa_Kipas memang lah melakukan kecurangan berdasarkan fakta dan data. Namun warga net Indonesia yang budiman sudah termakan oleh narasi Ali, didukung “media-mediaan”, “fans page gadungan” yang menyebarkan gambar dengan kata-kata yang salah dan sesat.

Hasilnya, tertanam lah di otak mereka yang termakan narasi itu bahwa Dewa_Kipas tidak bersalah dan memang sangat handal bermain catur. Banyak atlet catur dan warga catur yang mengerti dan menekuni dunia catur geram melihat tingkah laku warga net Indonesia yang membela Dewa_Kipas.

Akhirnya, Percasi Membuat Video Edukasi Catur Daring dan pembuktian secara data bahwa akun Dewa_Kipas itu melakukan kecurangan. Namun, banyak warga net Indonesia yang budiman tutup mata dan tutup kuping dengan video yang durasinya hampir atau lebih dari satu jam itu.

Para Insan catur sudah melakukan penjabaran fakta dengan analisis matematika, namun masih banyak yang tidak percaya bahkan menutup diri untuk mengetahui lebih lanjut.

Lalu ada angin segar, Mba Irene Sukandar Grand Master Wanita dan Internasional Master membuat surat terbuka kepada Deddy Cahyadi agar diundang ke Podcastnya untuk menjelaskan apa yang terjadi sekaligus mendikte warga net yang budiman agar tidak tersesat lagi.

Namun angin segarnya ternyata tidak sesegar yang dikira. Mba Irene membuat kecewa para insan catur karena tidak menyalahkan perbuatan yang dilakukan oleh Dewa_Kipas.

Lalu ada lagi angin yang sangat segar sekali. Setelah ditandang oleh Grand Master Susanto untuk dwi tarung menolak, akhirnya berkat Deddy Cahyadi, Pak Dadang akhirnya mau melakukan dwi tarung dengan Mba Irene untuk membuktikan apakah benar Pak Dadang benar sejago akun Dewa_Kipas atau tidak.

Angin segar kembali lagi surut dan tidak menyegarkan. Mba Irene dan GM Susanto dan semua insan catur yang ada di tempat kejadian perkara (TKP) malah bersimpati dan tidak sama sekali menyinggung kasus Dewa_Kipas.

Anaknya Pak Dadang, Ali Akbar, aktor di balik semua ini tertawa-tawa tidak tahu malu di belakang panggung menanti uang seratus juta rupiah.

Banyak sekali kejanggalan yang ada pada dwi tarung kemarin. Yang paling menonjol salah satunya yang paling jelas adalah Pak Dadang bilang tidak pernah bermain catur 10 menit sebelumnya, padahal di akun Dewa_Kipas, semua permainan yang dilakukan adalah dengan waktu 10 menit persis seperti dwi tarung yang dilakukan.

Apakah Pak Dadang tidak pernah memainkan akun Dewa_Kipas? Pak Dadang artinya jujur jika mengatakan Ia tidak bermain curang, karena yang curang bukan lah dia, melainkan orang lain yang memainkan akun Dewa_Kipas.

Saya tidak mau menuduh siapa-siapa, namun siapa lagi jika bukan Ali, anaknya Pak Dadang yang memulai semua ini.

Banyak juga warga net Indonesia yang menghujat Pak Dadang (bukannya Ali) karena selalu mengelak jika ditanya tentang kasus Dewa_Kipas. Mereka tidak bisa dan tidak perlu dikasihani, karena mendapat uang 100 juta dan merelakan rasa malu dan membuat warga net banyak dosa karena terus-terusan membela mereka.

Semoga kasus Dewa_Kipas ini belum berakhir sampai semua orang mengetahui faktanya.

Mulut Anda Kotor

Beberapa hari yang lalu, ada sebuah drama di dalam dunia percaturan yang menyangkut seorang Internasional Master (IM) dan Pecatur Kampung Hebat Indonesia yang pernah memenangi perlombaan. Levy Rozman (GothamChess) dan Dewa_Kipas a.k.a ayahnya Ali Akbar salah satu pengguna Facebook yang memulai drama ini. Sebagai seorang yang lumayan aktif di dunia catur dan banyak sekali belajar dari video-video unggahan GothamChess, saya terpanggil untuk menilik lebih jauh tentang masalah ini.

Saya menonton videonya saat Dewa_Kipas bermain dengan Levy dan akunnya di-banned. Video tersebut sudah lumayan lama diunggah (sekitar dua minggu setelah Ali memulai drama). Mengapa saya menyebutnya drama? Karena memang jelas ini adalah bahan yang sangat bagus untuk seorang agar dikenal. Apalagi, tokoh yang bersangkutan seorang IM dan sangat terkenal di Internet.

Selain itu, pertama, memancing emosional warga net Indonesia. Pastinya dengan kata-kata yang memancing perhatian dan pos yang lumayan panjang, serta ditambah tangkapan layar (screenshoot) sebagai bukti, sudah bisa membuat sebuah postingan drama.

Kedua, alih-alih fokus dengan pihak chess.com dan mencari keberan terlebih dahulu, premis-premis — yang akhirnya bukan penyebab utama — dilemparkan.

Ketiga, banyak halaman-halaman Facebook, akun Instagram, dan media yang mengangkatnya karena topiknya cukup cukup panas, ditambah kalimat-kalimat yang sangat memancing.

Lengkap sudah bahan drama.

Alih-alih mencari tahu lebih lanjut mengenai penyebab di-bannednya akun Dewa_Kipas, para warga net di kolom komentar banyak yang langsung geram dan memaki Levy dan para fansnya yang memang fanatik itu. Karena memang juga gambar dan kalimat yang dibagikan juga tidak tepat dan menyudutkan Levy.

Contoh salah satu akun “media-mediaan” yang menyebarkan drama ini

Banyak juga yang tiba-tiba menjadi “pecatur profesional” dan tiba-tiba tahu seluk beluk dunia percaturan daring (online) dan internasional. Dan yang membuat saya kaget adalah banyaknya orang yang tidak tahu bahwa bermain catur online bisa curang. Banyak yang berspekulasi curangnya main catur seperti curangnya bermain permainan online lainnya, seperti wallhack, bidak yang bisa pindah-pindah sesuka hati, waktu yang tak terbatas. Padahal, secara logika, ada yang namanya Artifical Intelegent (AI), dulu sempat heboh, robot catur buatan IBM mengalahkan Grand Master catur.

Dari fakta itu saja kita seharusnya sudah tahu, kalau komputer itu bisa menghitung/menkalkulasi jutaan langkah selanjutnya dan menentukan apa langkah terbaik. Ini kok malah aneh-aneh bilang bidak catur bisa pindah seenaknya.

Tanggapan Levy terhadap drama ini adalah santai dan mengakui dia juga bersalah (padahal menurut saya tidak). Dia merasa bersalah karena sudah memprovokasi para fansnya untuk melakukan mass report akun Dewa_Kipas. Namun pihak Chess.com juga buka suara bahwa penyebab akun Dewa_Kipas di-banned adalah bukan karena laporan yang masuk, tapi sistem yang mendeteksi langkah Dewa_Kipas itu tidak natural.

Levy menerika kekalahan itu dan tidak pernah menyatakan tidak terima kalah, ya dia menyatakan kalah oleh seorang cheater namun pada saat dia tidak tahu bahwa itu langkah murni yang dilakukan oleh akun Dewa_Kipas.

Warga net Indonesia menyerang habis-habisan akun sosial media Levy dan lagi-lagi membenarkan penelitian yang dilakukan Microsoft bahwa warga net Indonesia paling tidak sopan. Anehnya, mereka bukannya malu karena dianggap tidak sopan, malah membuktikannya dan merasa bangga akan hal itu. Saya miris sekali dengan keadaan ini.