Posts by Hilda Pohan

Halusinasi

Sunyi pagi tanpa suara, hanya hati yang bicara. Mimpikah aku semua akan baik-baik saja? Sepertinya.

Andai ku bisa merangkum semua rasa dengan bijak, mungkin ada kesempatan baik.

Kini ku sadar, sesuatu yang positif akan membosankan. Meski tak sempurna, aku telah sirna.

Canduku selalu bergema. Hanya bisu yang kini ada.

Alam semesta menontonkan diriku, riuh dera jiwaku.

Betapa kini beratnya menahan nafsu, siapa yang menolongiku? Aku.

1 800 273 8255

Flashback: Hujan Membasahi Cisarua

Kala itu, aku mendengar suara hujan turun dengan deras. Secepat mungkin aku turun ke bawah untuk melihat langsung indahnya aliran hujan dengan suasana yang tentram.

Senang rasanya dan lantas aku menemukan ide untuk bermain masak-masakan di depan teras. Lalu, ku ambilkan setangkai bunga di depan rumah dan ku blender dengan air hujan. — Jadi deh, jus bunga ungu.

Aku memandanginya dengan penuh kebanggaan, “kapan yaa Ayah bolehin aku untuk menyalakan listrik blender dan menyalakan kompor, sepertinya menyenangkan.”

Bumm.. Bumm..
“Haha Haha Haha”
“Tangkep dimm tangkep!!”

Eh? Apa itu? Arghh! Aku terganggu dengan suara itu! Aku langsung naik ke atas dan mengintipnya dari atas balkon. Ternyata, abangku sedang bermain bola di kala hujan.

“Ahaa! i have idea”

Dengan penuh semangat aku turun ke teras dan membawa hasil jusan aku tadi dan kembali ke atas balkon,

Drrrrrr, air blenderan itu ku tumpahkan ke kepala abangku dan yaaa seperti biasa dia mengamuk.

Ga lama kemudian, suara Ayah memanggilku dan bertanya, “kamu kenapa tumpahin air ini ke abang kamu? ini saudara kamu jangan sakitin dia”

“Dia bukan saudaraku! dia selalu mengganggu dan menyakitiku!” Saut aku.

Ya begitu deh sebagai anak kecil yang gatau apa-apa aku malah menangis dan pergi ke kamar dengan membanting pintu.

Ga lama kemudian, ibu menghampiriku untuk menenangkanku dengan begitu lembut nan sutera.



Hujan pun telah usai dan aku masih dalam pelukan ibu. Ibu mengajakku ke suatu pasar sore yang isinya ada banyak mainan anak-anak. Aku merasa bahagia sekali.

Setelah itu, ibu mengajakku ke kebun stroberi dekat dengan villa. Ibu memintaku untuk memetik semauku karena ia tau betapa cintanya aku kepada buah itu. Buah yang unik dan berwarna terang.

Setibanya di villa, ibu mengajariku cara menggunakan blender. Meskipun listriknya masih ditalangin oleh ibuku. Tubuhku yang masih sangat mungil, aku masih dalam gendongan ibuku untuk menaruh buah stroberi ke dalam blender.

Bahagia dan sangat bahagia. Seusai kegiatan tersebut, aku dan ibu sama-sama menikmati hasil jusan aku dengan senyuman nan lebar 👱🏻‍♀️