Blog

Sabar Sober

Ketika cobaan besar datang, ketika itu lah kesabaran diuji
Ketika itu dituntut untuk tetap tegar
Ketika itu juga ditampar oleh Hidup
Hidup yang kejam bukan main

Orang bilang, sabar itu ada batasnya!
Salah, salah besar
Sabar itu tidak terbatas

Buktinya, kamu yang terus-menerus disakit
Tetap setia menemani
Setia menyayangi mencintai

Aku tahu, kamu lelah
Kamu jarang istirahat
Terus-terusan memperjuang mimpi

Hingga, kamu tidak tersadar akan sebuah janggal
Jikalau kamu sadar, aku yakin seribu persen
Kamu akan keluar dari semua ini
Apapun cara, bagaimanapun bisa

Sama hal seperti ketika kamu berjuang
Kamu akan berusaha keras
Demi tujuan yang ada di kepala

Dan pada akhirnya
Kamu siuman
Kamu terbangun

Tersadar bahwa semua ini hanya mimpi
Namun, itu kah yang kamu inginkan?
Kamu sendiri yang tahu jawaban

Foto oleh Elisabeth Fossum dari Pexels

Nesotipme Dalam Kampus

Begini lah nasib punya kampus, tapi mahasiswanya dikuasai oleh eksternal. Belakangan ini banyak sekali lika-liku dalam hidup saya yang bersinggungan dengan organisasi ekstra di lingkungan kampus. Bukannya apa, saya ini kan calon anggota Pers Mahasiswa, yang notabenenya — dan emang harus — independen.

Dari awal masuk kuliah juga saya emang nggak mau berurusan dengan hal-hal yang berkaitan dengan politik kampus. Saat PBAK saja ya, kita semua satu angkatan udah didoktrin secara perlahan kalau ikut organisasi ekstra itu banyak manfaatnya.

Waktu itu saya ingat betul, salah satu pembicara dalam acara PBAK adalah tetua salah satu organisasi ekstra dengan massa terbesar di kampus. Ia bercerita kisah hidupnya dengan semangat, layaknya motivator-motivator ulung pada umumnya.

Ia bercerita bagaimana hidupnya sangat terbantu sekali dengan ikutnya organisasi ekstra. Seperti kalimat klise ini, awalnya coba-coba tapi ternyata menyesal enak juga. Saya ingat betul, ceritanya benar-benar menggambarkan bagaimana cara orang-orang dalam organisasi tersebut merekrut anggota.

Mula-mula diajak nongkrong, dikasih rokok, dibantu jika dalam kesulitan. Izin sekali dua kali nggak ikut nongkrong, dibujuk hingga akhirnya kita simpatis karena kebaikan mereka di awal. Akhirnya terpaksa dengan senang hati si pembicara ini menjadi anggota resmi.

Padahal, ikut atau nggak ikutnya kita dengan organisasi ekstra kan tidak menentukan kebahagiaan dan keberhasilan mahasiswa. Tapi mau bagaimana lagi? Tradisi aneh ini sangat melekat di kampus.

Oiya balik lagi ke awal. Dalam waktu dekat ini akan diadakan Pemilihan Presiden Mahasiswa. Semalam angkatan saya ngadain rapat untuk nentuin siapa aja calon presiden mahasiswa Jurnalistik. Di dalam rapat itu, disingguh lah sistematis pemilihan presma ini. Dan terucap lah kata “calon presma harus ikut ektra (terutama hijau)”.

Lalu para mahasiswa kupu-kupu nan kritis yang nggak pernah mau ikut ekstra tapi menginginkan keadilan bersuara. Kita harus meninggalkan budaya ini, tradisi ini, sistem ini, karena yang kuliah bukan hanya anggota hijau saja. Yang ikut kegiatan di kampus bukan anggota hijau saja.

Namun ada juga yang mengotot, kalau ingin merubah tradisi atau budaya ini, ya harus pelan-pelan, gua juga nggak mau sebenernya budaya ini ada (mereka sebutnya budaya), tapi ini adalah satu-satunya cara untuk kita dapat berubah nanti. Dalam hati gua, logikanya bagaimana ini? Gimana caranya ngubah budaya ini kalo dia sendiri masih pake cara ini dalam pemilihan tahun ini.

Akhirnya bersuara lah gua — di kolom chat — memberikan pendapat tentang isu yang tidak ada habisnya ini. Lha, kalau kita ingin menyudahi budaya ini, bukannya kita harus melakukan tindakan yang menolak budaya ini? Kok malah ikutan? Bagaimana caranya merubah budaya ini kalau memang nantinya sudah terpilih presma dan presma tersebut masih hijau?

Kenapa nggak kita satu angkatan abu-abu semua? Lanjut saya. Tapi jawabannya adalah, nggak bisa gitu. Lalu ada lagi, kalau kita semua abu-abu, angkatan kita bakal dikucilkan. See? Padahal tadi mereka sempat bilang, berubah itu butuh pengorbanan, butuh perjuangan. Tapi kok takut dikucilkan?

Saya nggak pernah mengerti bagaimana jalan pikir mereka. Katanya demokrasi, demokrasi yang mana? Demokrasi zaman Pak Harto?