Bukan Sembarang Bahagia

Orang-orang di dunia ini hidup tujuannya apa? Cari pahala dan rezeki.

Mentang-mentang anak Univ Islam ngomonginnya beginian. Hahahahaha.

Oke mari serius. Kita hidup ini bukan hanya cari pahala dan rezeki doang kan? Kita cari banyak hal. Tapi saat sedang mencari semua itu, kita nggak bisa dengan keadaan tertekan dan terpaksa. Maka orang-orang mulai cari kebahagiaan. Agar apa? Agar mereka mencari semua yang dia cari saat hidup itu dengan senang hati.

Di postingan gua sebelumnya Tradisi Galau di Masa SMA dibahas apa sih bahagia itu.

“Jadi gua simpulin bahagia itu jika kita mengerjakan sesuatu dengan hati dan menghasilkan keadaan pikiran atau perasaan yang ditandai dengan kecukupan hingga kesenangan, cinta, kepuasan, kenikmatan, atau kegembiraan yang intens.”

Begitu definisi bahagia versi gua (gabungan versi Wikipedia dan teman). Di postingan tersebut gua fokus untuk membahas bagaimana kisah cinta itu memengaruhi kebahagiaan. Kita harus mencintai diri sendiri lah, harus membahagiakan diri sendiri dahulu sebelum mencintai orang lain, pokoknya begitu kira-kira.

Tapi tapi tapi.. Gua mendapatkan pandangan baru mengenai bahagia, dan sekarang gua menganut bahagia yang baru ini. Bahagia menurut Stoikisme.

Mas Henry Manampiring — atau lebih dikenal Om Piring — pernah bilang, “Bahagia itu adalah tidak adanya emosi negatif”.

Menarik bukan?

Kalau menggunakan definisi gua sebelumnya, kita mengerjakan sesuatu — atau mudahnya menjalani hidup — menghasilkan keadaan pikiran atau perasaan yang ditandai dengan kecukupan hingga kesenangan, cinta, kepuasan, kenikmatan, atau kegembiraan yang intens.

Tapi, di Stoikisme ini beda, bahagia itu adalah di mana kita menjalani hidup tanpa adanya pikiran atau emosi negatif. Bagi mereka bahagia itu adalah tidak cemas, tidak khawatir, tidak negatif-negatif lainnya.

It’s not what happens to you, but how you react to it that matters. -Epictetus

Bukan apa yang terjadi pada kita, tapi bagaimana kita bereaksi terhadap yang penting.

Emosi negatif muncul akibat nalar yang sesat. Kita sering diadu antara emosi dan nalar. Nggak, jika ada emosi negatif muncul dalam diri kita, itu akibat nalar yang sesat. Karena di setiap kejadian yang ada, ada sebuah fakta objektif, fakta objektif ini kemudian ditambah-tambahkan dengan opini kita sendiri.

Kita sering kali bereaksi negatif atas hal-hal yang nggak bisa kita kontrol. Orang stoa menganggap peristiwa eksternal itu netral, nggak baik nggak juga jahat. Seperti jalanan macet, kalian marah-marah, nyalahin orang-orang. Bagi orang stoa nggak begitu, mereka akan bedah dulu macet itu apa sih? Lalu lalang situasi atau keadaan tersendatnya atau bahkan terhentinya lalu lintas yang disebabkan oleh banyaknya jumlah kendaraan melebihi kapasitas jalan.

Nah, macet itu kan hal eksternal, kita nggak bisa mengontrol kemacetan, hanya saja kita memang ada di dalamnya dan itu juga bukan salah orang-orang yang juga kena macet. Lalu lalang tersendat, udah sesimpel itu. Kecuali kalian marah dengan diri sendiri saat kena macet, itu boleh. Kenapa saya nggak berangkat lebih awal lagi, kenapa saya lewat jalan ini dsb.

Terus lagi, ditolak gebetan. Ditolak gebetan itu apa sih? Gebetan kita ajak pacaran, dia nggak mau. Terus muncul pikiran yang aneh-aneh. Gua kurang ganteng, gua miskin, gua bau badan dll. Lebay kan.

Padahal pikiran yang aneh-aneh itu nggak sepenuhnya benar. Mending tanya langsung kenapa dia nolak kita. Terus habis dikasih jawaban masih uring-uringan, perjuangan sia-sia. Hahaha dasar. Kita punya emosi, terus langsung kita atributkan penyebabnya sebuah peristiwa, hal eksternal.

Yang mau gua tekankan di sini adalah selalu saja kejadian -> emosi, kita seharusnya bisa mengaudit emosi kita. Karena seringnya adalah nalar yang sesat, yang salah itu adalah pikiran kita sendiri. Kita adalah orang yang bertanggung jawab atas pikiran kita. Bagaimana kita bereaksi akan suatu hal. Kita yang memegang kontrol penuh atas apa yang kita pikirkan apa yang ada dalam pikiran kita.

Jadi masih belum bahagia juga? Coba audit pikiranmu itu.

Brown Sheep Plush Toy Near Tumbler
(Visited 1 times, 1 visits today)

Leave A Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *