Posts in Cerita

Mengidolakan Idola Banyak Orang Bagian Pengantar

Semenjak SMP (atau SD ya) saya sudah menjadi Wota, sebutan untuk para fans Girl Band ala Jepang versi Indonesia yaitu JKT48. Karena saya anak warnet, hari-hari di warnet terus, sang operator warnet itu juga Wota, dan dia lah yang membuat saya menjadi suka juga dengan JKT48. Bagaimana tidak, hampir setiap hari saya datang ke warnet dan hampir setiap hari juga saya mendengarkan lagu JKT48 di warnet.

Saya terpaksa mendengarnya karena si OP warnet ini gemar sekali memutar lagu JKT48 memakai speaker warnet. Karena juga tidak setiap saat saya menggunakan headphone, maka mau tidak mau kuping saya mendengarkan lagu JKT48. Hampir seisi warnet juga adalah Wota, jadi bagaimana saya tidak ikutan menjadi Wota?

Memang awal-awal saya mulai menjadi anak warnet, semua orang di sana masih normal layaknya anak warnet biasa. Mendengarkan lagu regae, Avenged Sevenfold, atau lagu-lagu pop dari Burno Mars dan Maroon Five. Namun setelah tren JKT48 ini naik, maka seisi warnet berubah seketika, dari yang tadinya kelakiannya masih sangat terlihat menjadi sedikit bengkok.

Bermula dari mendengarkan salah satu lagunya bersama-sama hingga datang ke konser dan teater bersama-sama. Maka saya sebagai pelanggan warnet setia juga ikut-ikutan terjangkit virus ini. Menjadi Wota sejati. Setiap hari pula ada saja yang pamer bahwa mereka telah membeli album JKT48, atau membawa lightstick bakal konser nanti. Pokoknya ada saja kelakuannya setiap hari.

Awalnya saya biasa saja, dan menjadi Wota hanya dengan mendengarkan lagunya atau aktif di grup facebook perkumpulan Wota yang nama grupnya unik-unik. Bahkan saya ingat pernah membuat ID Card bergambar oshi (member yang kita idolakan) tanda bahwa saya adalah Wota, haduh absurd sekali kalau diingat-ingat.

Namun, ternyata lama kelamaan iri juga melihat teman-teman bisa datang ke konser, bertemu member-member JKT48 yang cantik itu, akhirnya saya mengumpulkan uang untuk bisa membeli tiket teater JKT48 di FX Sudirman. Walau harganya hanya 50 ribu saat itu, tapi untuk ukuran bocah kelas 2 SMP uang 50 ribu itu besar dan rasanya berat sekali untuk mendapatkannya, apalagi, tidak mungkin kan untuk minta ke orang tua, mau alasan apa?

Jadi saya memutuskan untuk mogok main warnet agar uangnya bisa ditabung untuk beli tiket teater JKT48. Waktu itu kira-kira uang 50 ribu terkumpul di minggu ke-2 mogok main warnet. Saya membuka website JKT48 dan melihat jadwal teaternya lalu memesannya. Saat itu saya tidak punya ATM, jadi saya nebeng bayarnya sama teman saya di warnet.

Setelah beberapa pekan, hari yang ditunggu-tunggu datang, saya akhirnya bisa menonton teater dan bertemu member JKT48 secara langsung. Singkat cerita, saya sampai di sana, dan ternyata isinya adalah orang dewasa semua, sepertinya hanya saya sendiri bocah SMP yang ikut teater JKT48. Saat itu saya menjadi malu dan rasanya ingin pulang saja. Walau memang tidak ada yang menghiraukan keberadaan saya, tetap saja saya seperti tidak ada teman selain anak-anak warnet saya yang juga orang dewasa.

Dear Friend, Dear Me

Udah lama banget nggak update di blog ini, sibuk sama blog utama soalnya. Eh tapi emang mana yang utama ya? Gua sendiri nggak tau. Tapi nggak ada sih yang utama, pasti ada aja momen-momen di mana kita mengabaikan apa yang kita anggap “utama”. Sekalipun kita dipaksa buat selalu tertuju pada yang utama. Nggak, nggak akan bisa.

Sebenernya udah banyak banget keresahan dalam diri gua semenjak terakhir nulis di blog ini. Tapi kayaknya keresahan itu seperti menguap. Jadi yaa, yaudah deh, mungkin udah basi juga kalo mau dibahas sekarang.

Oiya, sekarang kan bulan-bulan kelulusan sekolah. Salah satu temen deket gua lulus tahun ini. Kasian nggak sih lulus di saat keadaan seperti ini? Mau cari kerja juga susah. Udah sering banget gua tanya mau kuliah apa kerja. Dia selalu jawab maunya kuliah, tapi gimana, modal gua cuma ini. Yang dimaksud modal itu keahlian.

Dia jago dalam bidang olahraga, tapi biasa aja dalam bidang pengetahuan. Dia juga sempet nanya-nanya beasiswa yang nerima prestasi dari cabang olahraga. Ya tau kan kalo orang nggak kuliah, terus dari keluarga biasa aja, nggak ada modal, belum tau ilmu ekonomi atau manajemen uang, terus mau langsung kerja dan jadi pegawai biasa. Sampe dapet wahyu dari Tuhan dulu baru bisa dia hidupnya di atas rata-rata.

Apalagi di Jakarta, yang rata-rata pendapatan orang-orangnya itu lumayan besar, mungkin 2x lipat UMR. Aduh pokoknya banyak banget parameternya deh. Intinya kalo hanya lulusan SLTA terus nggak ada modal (uang untuk usaha) dan skill yang bayaranya mahal, agaknya susah buat hidup “enak”. Ya gua tau enak itu relatif, tapi banyak uang dan hidup tenang, apa itu bukan enak?

Terus juga gua suka kesel banyak yang mulutnya enteng dan bilang “sekarang mah nyari duit gampang, ada internet”, “jadi youtuber aja, langsung kaya”, “trading forex online lah” dan lain-lainya dah. Padahal yang ngomong begitu belum buktiin omongannya sendiri kalo hal-hal yang dia sebut itu bakal cepet atau ngasilin uang banyak. Dalam kenyataannya semua itu nggak gampang.

So, teruntuk teman gua. Semoga omongan lu tentang gap year dan mau kuliah tahun depan tercapai. Gua bakal bantu lu selalu. Semoga kita semua jadi orang yang kita mau, semangat!