Posts in Opini

Kita Tidak Sendiri

Full Moon Illustration

Ketika matahari terbenam, senja telah tenggelam dan gelap menutupi malam, ketika itu terlihat banyak bintang-bintang bertebaran di langit. Terangnya cahaya bulan menambah cantiknya malam hari, terlepas lagi, jika langit bersih dari awan. Indah sekali ku bayang. Sayangnya, di kota seperti Jakarta, terjadi pencemaran cahaya di mana-mana, polusi cahaya. Membuat bintang-bintang yang seharusnya nampak, menjadi pudar karena banyaknya cahaya sekitar.

Mulai dari lampu pinggir jalan, hingga ke penerangan rumah masing-masing keluarga, ditambah cahaya kendaraan dan banyak sekali sumber cahaya lain yang ada di permukaan. Hilang sudah cahaya bintang, tertutupi oleh cahaya-cahaya buatan manusia di sekeliling. Jika pergi ke tempat yang minim cahaya dengan langit terbuka, baru bintang-bintang apik tersebut dapat kita lihat.

Tapi, apakah tempat seperti itu masih ada di kota Jakarta ini? Tentunya selain lapangan luas, atau saat blackout. Rasanya jarang sekali atau bahkan mungkin tidak ada. Siapa yang tau, aku sendiri tak habis pikir jika ada tempat di mana kita masih bisa melihat indahnya langit malam hari di Jakarta, bagaimana caranya ke sana. Huft.

Jika melihat langit di malam hari, kadang aku bertanya-tanya, apakah ada dan bagaimana kehidupan di luar sana. Kehidupan selain di Bumi kita ini. Atau, kita sendirian di alam semesta yang sangat luas ini? Yang setiap waktu terus melebar membentuk “terompet”. Rasanya tidak mungkin kita sendirian, melihat bagaimana kita bisa ada dan potensi bahwa ada planet yang mirip sekali dengan Bumi.

Tapi, di mana mereka semua? Selama bertahun-tahun manusia sudah mencoba berkomunikasi, melakukan berbagai cara untuk dapat mengirimkan pesan yang bisa dibaca oleh mereka, kita tak kunjung mendapatkan balasan. Walau, banyak beredar di internet mengenai alien atau kapal luar angkasanya itu, tapi tetap bukti-bukti tersebut belum bisa membuktikan adanya mereka.

Aku sendiri sangat senang dan menikmati kisah-kisah menyangkut alien atau kehidupan di luar bumi yang ada di internet, sekalipun teori konspirasi yang bertebaran.

(N)egoisasi: Takut Benar Salah Mengalah

PS: Males banget ngasih PS, cuma masih ada aja orang yang susah payah menanggapi tulisan saya. Tulisan ini 100% opini saya, benar atau salah itu tidak bisa dinilai secara objektif, jadi jangan susah-susah menyangkal. Tapi terserah kalau masih ingin melakuka hal itu, saya sama sekali tidak keberatan, kalau bisa komentar di tulisan saya tentang pendapat kamu, bukan di tempat lain.

“Kita adalah sepasangan sepatu, selalu bersama tak bisa bersatu.”

Sedikit penggalan lirik lagu Sepatu oleh Tulus untuk mengawali tulisan ini. Sebenarnya lagu itu sedikit banyak menggambarkan situasi hati gua saat ini. Lagu yang instrumennya asik dan liriknya agak sedih itu berhasil membuat diri gua tersadar akan banyaknya jenis cinta dan salah satunya adalah yang digambarkan oleh lagu itu.

Lagu-lagu tulus emang hampir selalu berhasil membuat orang relate dengan lirik-liriknya yang apik dan tertata rapih. Hampir setiap alunan nada lagu populernya bisa membuat orang yang mendengarkan. Tapi bukan itu yang mau gua bahas atau ceritain di sini, melainkan kata “takut” dalam lirik lagu Sepatu.

Lagu tersebut amat sangat menggambarkan bahwa hubungan yang dimiliki oleh sepasangan sepatu tersebut sama sekali tidak seperti yang mereka inginkan. Karena, mereka dikendalikan oleh orang lain (dalam hal ini kaki) dan sepasang sepatu adalah ilustrasi yang sangat tepat untuk menggambarkan sebuah hubungan yang banyak dipengaruhi oleh hal-hal dari luar.

Kita emang butuh masukan dari orang lain, tapi kalau kita tidak dapat menyaring masukan tersebut dan terus-terusan melakukan apa saja yang mereka katakan, itu adalah hal yang salah. Tulus mencoba menggambarkan salah orang dalam sebuah hubungan seperti itu melakukan apa saja yang diperintahkan orang lain.

“Ku senang bila diajak berlari kencang

Tapi aku takut kamu kelelahan

Ku tak masalah bila terkena hujan

Tapi aku takut kamu kedinginan”

Kata ku senang dan tak masalah adalah bentuk mengalah dari sepatu kanan yang pasangannya (kiri) selalu mengiyakan masukan orang lain. Kata takut adalah rasa khawatir yang dialami oleh sepatu kanan yang diajak lari oleh sepatu pasangannya (kiri).

Jelas bahwa hubungan seperti ini tidak sehat, apalagi jika ketakutan pasangannya itu diabaikan.

Have a nice day you all