Posts in Opini

Aku Berpikir, Maka Aku Ada

Seorang perempuan pemberani berparas cantik, yang lahir tanpa orang tua dan sukses. Kamu sangat keren, semua kerabat yang mengenal dirimu, mereka iri padamu. Kamu yang dielu-elukan selalu dimana pun kamu berada. Kamu yang diidamkan setiap pria yang melihat dirimu.

Belakangan ini dirimu sedang dilanda galau, sedang bingung. Kamu sudah lama tidak merasakan penderitaan. Sudah lama kamu merasakan kesenangan ini. Kesenangan yang kamu capai setengah mati selama 25 tahun. Setelah semua impian telah kamu capai, kamu sekarang bingung sekali.

Kira-kira, apa lagi yang ingin aku lakukan ya? Pikirmu sangat keras. Bukannya lelah dan istirahat, kamu malah tidak bisa berhenti membuat karya. Membuat orang-orang di sekitar mengaggumi dirimu. Kamu sering menjadi pembicara di acara-acara motivasi. Bercerita bagaimana dirimu menempuh semuanya. Dengan kata-kata motivasi yang sudah sangat sering kamu gunakan di banyak acara.

Terus lah berkarya, pada akhirnya itu semua akan menjadi maha karya.

Kebanyakan audien yang kamu berikan ucapan seperti itu tidak mengerti. Pasti setelah selesai sesi bicara, akan ada pertanyaan maksud dari kata-katamu tersebut. Namun itu lah yang kamu inginkan, pertanyaan itu yang kamu nanti-nanti.

Sengaja kamu menyisipkan kalimat tersebut di setiap acara yang kamu hadiri. Dengan begitu kamu bisa menjelaskan lebih lanjut, dengan begitu pasti ada yang bertanya. Karena juga, kamu bosan mendapatkan pertanyaan yang itu-itu saja. Maka kamu buat sendiri kalimat pemancing pertanyaan agar kamu bisa menjawabnya dengan barbagai jawaban yang berbeda.

Namun, belakangan ini kamu tidak lagi menggunakan kalimat tersebut. Mungkin, kamu juga kehabisan jawaban. Alih-alih menggunakan jawaban sebelumnya, kamu lebih baik tidak melontarkan kalimat tersebut. Sering kali belakangan ini, kamu terpaksa tersenyum saat mengisi sesi motivasi.

Ternyata, seniman bisa kebingungan juga ya. Aku yang orang biasa, tak habis pikir memikirkan pikiran orang lain yang kehabisan pikir. Pikirmu, ini semua tidak melelahkan? Aku, kamu, semua orang, terjebak dalam paradoks hidup.

Parasosial, Di Saat Kita Merasa Dekat dengan Idola

Kenapa ya, kita kalau mengidolakan seseorang, menonton kontennya setiap hari, melihat status yang dibuatnya di sosial media, kita merasa sangat dekat dengan mereka. Misalnya saya, saya itu suka sekali dengan Twice, girl band korea yang baru-baru ini come back. Dari semua album yang dikeluarkan Twice, ini album favorite saya. Entah kenapa, rasanya Twice kali ini konsepnya sangat fresh, tapi More and More kemarin juga fresh banget sih. JYP emang benar-benar keren.

Tapi yang paling disayangkan, member favorite saya Jeongyeon nggak bisa ikut beberapa music bank karena sedang sakit, sedih rasanya huhu. Eh kok malah cerita Twice? Oke lanjut.

Jadi setiap hari saya menonton video musiknya (Twice), mendengarkan lagunya, atau sekadar melihat meme tentang mereka di Facebook. Rasanya itu, saya seperti mengenali dan dekat dengan mereka semua. Apalagi, saya ini memang pacaran sama “salah satu” dari mereka huehehehe. FYI nih, Hilda itu mirip banget sama Dahyun, dari bentuk wajahnya sampai kelakuannya sangat mirip. Hahaha.

Tapi lagipula, siapa sih sekarang yang nggak kena bias K-POP ini? Kayaknya hampir seluruh umat manusia di muka bumi itu suka sama K-POP. Bahkan para hewan juga mungkin diam-diam ikut mendengarkan K-POP, huft. Andai, Indonesia punya culture yang mendunia kayak Jepang dan Korea, dan negara-negara lain dengan culture yang mendunia.

Jadi kenapa kita ngerasa deket atau kenal banget sama si idola kita? Saya sudah melakukan riset sedikit tentang ini. Fenomena ini dalam dunia psikologi dinamakan Interaksi Parasosial. Berdasarkan paper yang saya baca, INTERAKSI PARASOSIAL (Sebuah Studi Kualitatif Deskriptif pada Penggemar JKT48) (PDF), interaksi para sosial adalah interaksi yang terjalin antara individu dengan artis atau tokoh terkenal, dan interaksi terjadi layaknya interaksi sosial secara langsung.

Penyebabnya adalah, karena otak kita memproses pengalaman melihat melalui media seperti “pengalaman langsung”, secara khusus bereaksi terhadap artis yang kita sukai seperti yang kita lakukan pada orang secara nyata yang ada di depan kita.

Dengan para artis dan tokoh selalu tampil di media, melakukan live streaming dan berinteraksi langsung dengan para fansnya melalui live, itu membentuk interaksi parasosial untuk para fans mereka.

Jadi bukan tidak ada alasan kalau kita merasa dekat sekali dengan tokoh atau artis yang kita senangi. Jangan jauh-jauh deh, contohnya, kita saja merasa sangat dekat dengan Pakde Jokowi, ya kan?