Melihat anak kecil bersenang-senang di tengah hujan deras yang turun. Bercanda, tertawa lepas dengan kawannya. Saling ciprat, guyur bahkan dorong. Salah satu ada yang tersakiti karena jatuh, namun bangkit lagi dengan senyum yang malah tambah lebar. Sakit karena jatuh, lecet sedikit, seakan langsung sembuh terkena air hujan. Basah kuyup bahagia. Air hujan bagaikan obat serba-guna, dapat mengobati luar maupun dalam.

Aku membayangkan diriku berada di antara mereka. Ikut asyik mandi hujan walau gemuruh kian kencang. Rasanya nikmat sekali, tentram sekali. Seakan-akan semua beban di hidup ini lepas untuk sementara. Seperti di surga, surga yang amat basah. Tidak ada yang lebih nikmat dari hujan-hujanan.

Namun kini diriku telah dewasa, orang bilang tak pantas hujan-hujanan, seperti anak kecil! Padahal, apa salahnya? Seru kok. Tapi ya masuk akal juga kalau dipikir-pikir. Pertama waktu, sepertinya sudah tidak ada waktu lagi untuk mandi hujan, kita disibukan dengan hal-hal kecil yang membuat nyaman. Main HP, scroll sosial media, main game online di HP, rebahan di kasur, dan lainnya.

Jika dulu waktu masih kecil, apa yang perlu dikawatirkan? Atau apa yang terlalu dipikirkan? Tidak ada. Hanya kesenangan, kebahagiaan. Dan mandi hujan itu suatu kebahagiaan yang luar biasa. Kadang, jika dulu orang tua tidak mengizinkan, aku pasti akan sangat iri dengan teman-teman yang mandi hujan di luar.

Tapi bukan tidak ada alasan orang tua melarang anaknya untuk mandi hujan. Seringnya, aku kala itu sedang tidak enak badan. Jarangnya, hujan terlalu lebat, angin kencang dan petir nyaring sekali. Jika keadaan selain yang aku sebutkan tadi, tidak ada alasan orang tuaku untuk melarangku mandi hujan.

Hujian

Hujan punya dua sisi bagi manusia, seperti hal lainnya, yaitu positif dan negatif. Bagi sebagian orang, hujan ini dianggap anugerah tuhan, bumi yang kering telah dibasahi-Nya, menjadi sejuk suasana. Ada yang tertolong karena hujan. Biasanya juga dijadikan alasan untuk bermalas-malasan di rumah. Ada yang menikmati hujan di depan rumah, sambil menikmati teh hangat. Ada yang terinspirasi menulis karena hujan (itu saya).

Di sisi lain, hujan juga merugikan orang. Orang-orang yang bekerja di lapangan, di jalan-jalan, yang harus berhenti jika hujan turun. Ada yang mengeluh karena hujan membatalkan recananya hari ini. Hujan ini dianggap ujian oleh golongan ini. Pokoknya, saat hujan, kerjaanya mengeluh saja, “Coba tidak hujan, pasti aku bisa …,”, “Yah bakal sepi deh ini, hujan soalnya,”.

Ada yang sial karena hujan turun. Terpeleset lah, terciprat kubangan yang dilewati mobil dengan kencang saat sedang meneduh. Diguyur hujan tiba-tiba saat sedang mengendarai motor tanpa jas hujan. Isi tas dan barang bawaan basah karena hujan dan masih banyak lagi skenario yang tidak bisa dibayangkan.

Namun, walau memang hujan ini kadang merepotkan. Kita ini butuh hujan, bayangkan jika tidak ada hujan, tidak ada musim hujan, betapa keringnya bumi ini. Bagaimana tumbuhan-tumbuhan dapat terus memanjangkan akarnya untuk mencari sumber air untuk dirinya? Memangnya semua tumbuhan punya cara bertahan hidup yang sama dengan kaktus?

Pada intinya, kita harus bersyukur dengan segala yang diciptakan Tuhan. Nyamuk saja — yang merepotkan sekali — bisa membuat orang menjadi kaya raya, bisa membuat lapangan pekerjaan bagi orang banyak. Apalagi hujan ini, banyak hal yang mungkin kita tidak tahu dari hujan.

Dasar hujan, terima kasih juga hujan.

(Visited 68 times, 1 visits today)

Leave A Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *