Sudah seminggu sejak kematian Pak Tua yang tinggal di seberang sana. Aku ingat betul, saat pagi begini, dia pasti sedang duduk di depan rumahnya sambil membaca koran harian yang sedari jam lima pagi sudah terletak di depan rumahnya. Dari sekian banyak rumah di sini, hanya Pak Tua itu yang masih langganan koran harian. Maklum, mungkin ia seperti orang tua kebanyakan, yang gaptek. Boro-boro mengirim pesan WhastApp menggunakan smartphone, aku tidak pernah melihat ia memegang ponsel jadul sekalipun. Padalah ya, ia adalah pembisnis yang cukup hebat.

Hanya sekali aku melihat Pak Tua itu sedang telfonan dengan seseorang menggunakan ponsel anak buahnya. Dari mana aku tahu bahwa itu ponsel anak buahnya? Ya karena anak buahnya berdiri di sampingnya. Mungkin yang menelefon adalah rekan bisnisnya, kelihatannya ia sangat serius pada waktu itu. Namun, hingga saat ini aku masih belum tahu bisnis apa yang ia jalankan.

Aku juga tidak tahu akan dikemanakan rumah dan seluruh harta yang ada di dalam rumah Pak Tua tersebut. Semenjak aku kecil, ia sudah tinggal di seberang sana. Tidak pernah nampak sekali pun seorang istri atau anak atau cucunya. Ia pernah bercerita kepadaku bahwa sebenarnya ia punya istri. Waktu itu kami sedang rapat di rt. Ia bercerita, istrinya meninggal 20 tahun yang lalu karena serangan jantung. Lalu ia tidak melanjutkan ceritanya.

Saat kematiannya, banyak sekali karangan bunga yang dikirimkan dari perusahaan-perusahaan kecil hingga besar, dari perorangan hingga ke grup arisan ibu-ibu. Iya benar, arisan ibu-ibu, entah apa hubungan yang dimiliki oleh si Pak Tua dan grup arisan ibu-ibu.

Pernah suatu hari ada ibu-ibu mengunjunginya, parasnya cantik terawat, hingga tidak kelihatan berapa umurnya. Tapi aku yakin umurnya sudah kepala lima. Aku lihat mereka berdua akrab sekali berbincang-bincang di teras depan rumahnya. Seperti kerabat sebaya. Tidak lama setelah berbincang ibu itu memberikan sebuah amplop. Aku tidak tahu apa isinya, bisa surat, bisa juga uang. Tapi tidak mungkin itu uang, melihat tidak pernah ada yang memberikan ia uang. Juga, untuk apa ibu itu memberinya uang? juga surat? Hmm

Bukan, Pak Tua itu tidak mati penasaran dan menjadi arwah penasaran. Tapi aku yang penasaran siapa Pak Tua itu sebenarnya.

(Visited 9 times, 1 visits today)

Leave A Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *