Menangkal Radikalisme Agama

Photo by β€πŸŒΈπŸ™Œ فی ΨΉΫŒΩ† Ψ§Ω„Ω„Ω‡

Siapa yang tidak menyadari bahwa di Indonesia banyak sekali kelompok radikal berbasis agama. Saya yakin sekali kelompok itu sendiri tidak menyadari bahwa tindakan mereka itu sebenarnya radikal. Doktrin dan pemahaman-pemahaman untuk melakukan apapun demi berdirinya negaraΒ  khilafah atau tujuan lainnya sudah tertanam di otak mereka.

Sampai-sampai mereka rela melakukan apapun demi mencapai tujuan kelompok mereka. Seperti kasus terorisme yang terjadi belakangan ini yakni Bom Surabaya 2018[1] yang menewaskan sedikitnya 15 orang. Lalu penyerangan Mapolda Riau oleh kelompok teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD), kelompok yang sama saat Bom Surabaya.

Sejak pertama kali aksi terorisme di Indonesia ini, motif mereka β€” kelompok radikal agama Islam β€” selalu sama yaitu β€œjihad”.  Kelompok radikal ini tidak main-main, mereka adalah ancaman nyata bagi Indonesia.

Ancaman radikalisme di Indonesia β€” menurut saya β€” tentu saja bisa hilang namun pasti akan sulit sekali. Bayangkan ada sekitar 270an juta rakyat Indonesia, masa sama sekali tidak ada yang punya pemikiran radikal? Sangat tidak mungkin kan? Namun radikalisme agama dapat diminamilisir.

Belakangan ini pemerintah dan para pejabat menyatakan perang melawan radikalisme. Juga karena tahun belakangan ini adalah tahun pemilihan umum, banyak pidato dan pernyataan paslon diisi oleh anjuran-anjuran deradikalisasi.

Perang melawan radikalisme itu memang harus, tetapi lihat juga siapa yang kita lawan, apakah memang benar-benar itu kelompok radikal. Saya yakin betul kelompok yang dimaksud radikal kebanyakan β€” atau mungkin semua β€” adalah kelompok Islam.

Ini yang perlu dipahami, kita harus dapat membedakan mana perang melawan radikalisme, perang melawan umat Islam, dan perang melawan Islam. Jangan mentang-mentang kelompok radikal itu mengatasnamakan agama Islam, kita malah jadi ikut memerangi umat dan agama Islam itu sendiri.

Dengan dibubarkannya HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) oleh pemerintah pada tanggal 19 Juli 2019, itu memperlihatkan bahwa pemerintah melakukan tindakan nyata untuk menangkal radikalisme agama di Indonesia. Tapi seperti yang saya katakan tadi bahwa radikalisme akan sangat sulit untuk benar-benar dihilangkan hingga ke akarnya. Tapi juga, saya yakin pemerintah sudah berupaya keras untuk menangkal radikalisme di Indonesia.

Jadi upaya yang tepat yang seharusnya dilakukan adalah memutuskan jaringan-jaringan radikalisme yang ada dan menanamkan nilai toleransi kepada warga Indonesia. Karena awal dari radikalisme itu adalah sikap intoleran.

Jadi pemerintah seharusnya menanamkan sikap toleransi kepada warga Indonesia sejak dinii agar tidak ada lagi kelompok radikalisme yang berkembang juga mencegah adanya kelompok radikalisme baru.


[1] Pengeboman Surabaya 2018 adalah rangkaian peristiwa meledaknya bom di berbagai tempat di Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur pada 13–14 Mei 2018. Tiga tempat di antaranya tempat ibadah di Gereja Santa Maria Tak Bercela, GKI Diponegoro, dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Jemaat Sawahan. Dua tempat lainnya masing-masing kompleks Rumah Susun Wonocolo di Taman, Sidoarjo[7] dan Markas Polrestabes Surabaya.

(Visited 5 times, 1 visits today)

Leave A Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *