Menghakimi Orang Lain

Ketika trending di twitter #bokepterbaru gua jadi teringat berita bulan lalu tentang Sandhy Sandoro yang tercyduk nge-like tweet bokep oleh netizen warga Indonesia.

Sandhy Sondoro habis menjadi sasaran “ceramah” netizen karena tercyiduk menyukai tweet bokep di Twitter. Sampai-sampai, akun Sandhy sampai digembok beberapa saat kemudian. Betapa tidak menyenangkannya dipecundangi oleh hal semacam itu, kan?

Orang Indonesia yang menjadi pasar terbesar Industri pornografi, yang paling demen berburu video mantab-matab dengan ungkapan ‘share link gan’ tiba-tiba jadi “polisi moral”.

Dua kata :

Hipokrit, Munafik

Giliran mantan artis bokep Maria Ozawa yang dukung kesebelasan Timnas kita di ajang pembuka Sea Games di Filipina disanjung-sanjung. Yaa nggak salah sih.

Padahal, kalau stalking akun IG doi, kita akan mendapati satu fakta yang mengejutkan! Bukan, bukan apa-apa, kita akan melihat doi pun berbalut bendera negara lain saat menjadi brand ambassador portal judi onlen. KERJA! KERJA! KERJA! Jangan GR dulu, gaes…

Tapi netizen yang budiman karena kelewat senang, mereka menganggap itu sebagai hal yang membanggakan. Orang-orang macam ini, gua yakin betul, tipikal orang yang kalau jalan-jalan ke Borobudur sering minta foto bareng “bule”.

Bahkan, sampai ada yang membandingkan Maria Ozawa dan Agnez Mo soal sikap “Cinta NKRI”. Lha? Nggak sekalian aja bikin petisi mendukung Maria Ozawa jadi pengurus PSSI?

Padahal, Agnez kerap membawa identitas budaya Indonesia. Salah satunya, bagaimana ia tampil dengan batik di video musik berjudul Long As I Get Paid. Emang susah kalau ultra-nasionalisme nasionalisme kita diukur berdasarkan kecakapan baris-berbaris di media sosial.

Balik lagi ke Shandy..

Apa sulitnya memahami bahwa yang dilakukan oleh Sandhy sepele belaka, yaitu sebagai konsumen pornografi sebagaimana kita? Siapa yang dirugikan? Yang berbahaya dari industri pornografi adalah human trafficking dan kekerasan atas tubuh manusia.

Emang susah menjaga konstruksi nalar yang koheren, terlebih selalu merasa lebih saleh dan bijak, lalu menikam dengan ‘Maaf sekadar mengingatkan’.

Maaf sekadar mengingatkan. *peace

(Visited 2 times, 1 visits today)

Leave A Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *