Beberapa hari yang lalu, ada sebuah drama di dalam dunia percaturan yang menyangkut seorang Internasional Master (IM) dan Pecatur Kampung Hebat Indonesia yang pernah memenangi perlombaan. Levy Rozman (GothamChess) dan Dewa_Kipas a.k.a ayahnya Ali Akbar salah satu pengguna Facebook yang memulai drama ini. Sebagai seorang yang lumayan aktif di dunia catur dan banyak sekali belajar dari video-video unggahan GothamChess, saya terpanggil untuk menilik lebih jauh tentang masalah ini.

Saya menonton videonya saat Dewa_Kipas bermain dengan Levy dan akunnya di-banned. Video tersebut sudah lumayan lama diunggah (sekitar dua minggu setelah Ali memulai drama). Mengapa saya menyebutnya drama? Karena memang jelas ini adalah bahan yang sangat bagus untuk seorang agar dikenal. Apalagi, tokoh yang bersangkutan seorang IM dan sangat terkenal di Internet.

Selain itu, pertama, memancing emosional warga net Indonesia. Pastinya dengan kata-kata yang memancing perhatian dan pos yang lumayan panjang, serta ditambah tangkapan layar (screenshoot) sebagai bukti, sudah bisa membuat sebuah postingan drama.

Kedua, alih-alih fokus dengan pihak chess.com dan mencari keberan terlebih dahulu, premis-premis — yang akhirnya bukan penyebab utama — dilemparkan.

Ketiga, banyak halaman-halaman Facebook, akun Instagram, dan media yang mengangkatnya karena topiknya cukup cukup panas, ditambah kalimat-kalimat yang sangat memancing.

Lengkap sudah bahan drama.

Alih-alih mencari tahu lebih lanjut mengenai penyebab di-bannednya akun Dewa_Kipas, para warga net di kolom komentar banyak yang langsung geram dan memaki Levy dan para fansnya yang memang fanatik itu. Karena memang juga gambar dan kalimat yang dibagikan juga tidak tepat dan menyudutkan Levy.

Contoh salah satu akun “media-mediaan” yang menyebarkan drama ini

Banyak juga yang tiba-tiba menjadi “pecatur profesional” dan tiba-tiba tahu seluk beluk dunia percaturan daring (online) dan internasional. Dan yang membuat saya kaget adalah banyaknya orang yang tidak tahu bahwa bermain catur online bisa curang. Banyak yang berspekulasi curangnya main catur seperti curangnya bermain permainan online lainnya, seperti wallhack, bidak yang bisa pindah-pindah sesuka hati, waktu yang tak terbatas. Padahal, secara logika, ada yang namanya Artifical Intelegent (AI), dulu sempat heboh, robot catur buatan IBM mengalahkan Grand Master catur.

Dari fakta itu saja kita seharusnya sudah tahu, kalau komputer itu bisa menghitung/menkalkulasi jutaan langkah selanjutnya dan menentukan apa langkah terbaik. Ini kok malah aneh-aneh bilang bidak catur bisa pindah seenaknya.

Tanggapan Levy terhadap drama ini adalah santai dan mengakui dia juga bersalah (padahal menurut saya tidak). Dia merasa bersalah karena sudah memprovokasi para fansnya untuk melakukan mass report akun Dewa_Kipas. Namun pihak Chess.com juga buka suara bahwa penyebab akun Dewa_Kipas di-banned adalah bukan karena laporan yang masuk, tapi sistem yang mendeteksi langkah Dewa_Kipas itu tidak natural.

Levy menerika kekalahan itu dan tidak pernah menyatakan tidak terima kalah, ya dia menyatakan kalah oleh seorang cheater namun pada saat dia tidak tahu bahwa itu langkah murni yang dilakukan oleh akun Dewa_Kipas.

Warga net Indonesia menyerang habis-habisan akun sosial media Levy dan lagi-lagi membenarkan penelitian yang dilakukan Microsoft bahwa warga net Indonesia paling tidak sopan. Anehnya, mereka bukannya malu karena dianggap tidak sopan, malah membuktikannya dan merasa bangga akan hal itu. Saya miris sekali dengan keadaan ini.

(Visited 23 times, 1 visits today)

Leave A Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *