Sebenarnya agak telat nulis sekarang, tapi mau tidak mau untuk mengenang tahun 2020 sekaligus mengisi blog yang belakangan ini mati, maka tulisan ini harus terbit kapanpun sebelum bulan Januari berakhir. Lagi pula, rasanya tidak asik kalau tidak membuat ringkasan setahun belakangan di tahun baru. Sejarah telah berlalu, apa lagi yang bisa kita lakukan untuk mengabadikan momen-momen yang pernah terjadi kalau bukan mendokumentasikannya atau menulisnya?

Tahun 2020 diawali dengan banjir dan isu perang dunia ke 3, dilanjut dengan kebakaran hutan di Australia dan serangkaian peristiwa besar lainnya yang jarang dijumpai di tahun-tahun normal sebelumnya.

Tahun 2020 adalah tahun yang sangat tidak disangka, tidak terduga, tidak terprediksi sama sekali oleh umat manusia di dunia. Tatanan bumi dapat dikatakan “terguncang” akibat virus SARS-CoV-2 yang diberitakan pertama kali muncul di Wuhan, China yang mengakibatkan Covid-19. Kita semua ingat betul, virus ini lumayan lama masuk ke negara Indonesia, dan sempat heboh juga bahwa Covid-19 tidak akan menjangkit Indonesia.

Namun, yang namanya virus, mudah menyebar dan manusia masih rentan terhadap virus tersebut, pasti akan masuk juga. Dan benar saja, beberapa bulan kemudian, tepatnya bulan Februari dan dikonfirmasi pada bulan Maret, yang dibawakan oleh seorang turis Jepang, ditularkan kepada seorang wanita di sebuah klub dansa di Jakarta.

Saat itu kita semua masih beraktivitas seperti biasa, bekerja, sekolah dan melakukan hal lain dengan normal. Tak lama kemudian, tren kasus Covid-19 naik drastis. Semua orang dirumahkan, diwajibkan mengenakan masker, dan melakukan pembatasan sosial. Fase pertama yang paling buruk di tahun 2020. Ratusan ribu orang kehilangan pekerjaannya, ribuan bisnis gulung tikar. Banyak pelajar yang kesulitan mengikuti kegiatan belajar mengajar.

Saya tidak perlu menjelaskan secara detail permasalah-permasalah yang ada. Pada intinya, bulan Februari hingga pertengahan tahun, negara kita sangat kacau. Dunia juga kehilangan beberapa publik figur di tahun 2020 di antaranya, Gleen, Godfather of broken heart (Didi Kempot) dan Kobe Bryant.

Lalu hari berganti hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, tidak ada yang spesial. Stress, jenuh, bosa, karena di rumah terus, namun setelah pertengahan tahun, sudah mulai longgar, sudah tidak takut lagi dengan Covid-19 sudah abai dengan tren kasus Covid-19 harian dan mulai berani keluar rumah untuk “mencari angin segar”.

Pasti, setiap orang punya kisahnya masing-masing, punya masalah dan jalan keluarnya masing-masing, tapi ada masalah yang sifatnya universal, atau.. tidak ada? Lalu jangan-jangan, pandemi ini adalah buat-buatan, jangan-jangan virus SARS-CoV-2 sengaja dibuat oleh sekelompok orang untuk tujuan tertentu. Konspirasi.

Berkonspirasi — atau lebih tepatnya berteori konspirasi — adalah jalan keluar bagi sebagian orang untuk sesuatu yang tidak pasti. Eh, kenapa bahasannya jadi mengawang? Oke lanjut bahas tahun 2020.

Seperti lagu Hindia yang berjudul Setengah Tahun Ini, sangat jelas menggambarkan apa yang saya rasakan, “setengah tahun” di tahun 2020 seperti tidak pernah ada, tidak pernah dilalui oleh saya. Bukan dari bulan Januari hingga Juli, tapi 6 bulan yang dimulai bulan Februari, rasanya hampa. Apa yang bisa diingat? Jujur, sebenarnya melupakan tahun 2020 dari memori kita adalah sebuah keharusan, karena yang ada hanya kekacauan. Namun seperti orang-orang bilang, setiap masalah pasti ada hikmahnya. Tapi apa hikmahnya? Ya, banyak.

Tidak bisa disebutkan satu per satu, apalagi dijabarkan, tapi semua dari kita pasti tahu, apa hikmah di balik tahun yang hancur ini. Setidaknya, setidaknya, bagi orang-orang yang terjatuh, dapat belajar untuk bangkit kembali — walau sangat susah. Kondisi memaksa kita untuk ini, yang dapat kita lakukan hanya lah berusaha dan menunggu, apalagi?

Bayangkan, berapa banyak orang yang dirumahkan, diberhentikkan kerja, berapa banyak pelaku bisnis dan UMKM yang bisnisnya gulung tikar, berapa banyak orang yang meninggal karena Covid-19, berapa banyak orang yang dirugikan akibat semua ini. Dan kita, saya, kalian, harus bersyukur masih bisa membaca tulisan ini, saya bersyukur masih bisa untuk menerbitkan tulisan ini. Kalian masih punya Gadget dan koneksi internet, saya pun begitu, yang mana banyak di luar sana orang-orang yang sedang sengsara akibat pandemi.

Ah, sudah lah, let it flow.

(Visited 20 times, 1 visits today)

Leave A Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *