Menghabiskan waktu dengan kegiatan yang membuat otak kita lemah. Berselancar di sosial media, melihat postingan orang-orang di dunia ini. Setiap video yang menarik, ditonton, 3-5 menit, lalu berganti ke video berikutnya. Berganti begitu cepat, hingga mungkin 10-15 video selesai ditonton, tidak ingat apa yang tadi ditonton karena terus berganti walau dengan tema yang mirip-mirip.

Tidak dapat fokus kepada satu hal, apalagi banyak hal. Malas-malasan, bersantai-santai di kasur setiap hari. Itu lah diriku sehari-hari. Bukannya membaca buku atau bacaan berbobot di internet, menghabiskan waktu 30 menit sampai satu jam untuk sebuah topik. Malah, menghabiskan waktu untuk hal-hal yang membuahkan banyak dopamine pada otak dengan mudahnya.

Mudah sekali, tingal sentuh layar ponsel beberapa kali dan geser-geser ibu jari mencari video lucu atau menarik, otak kita sudah kesenangan bukan main. Makin ditonton makin nagih, susah bangkit dari kasur, bahkan untuk minum sekalipun. Perlahan-lahan otak kita akan susah bekerja untuk hal-hal berat. Boro-boro memikirkan masa depan, apa yang nanti malam dilakukan saja tidak tahu.

Rasanya sudah hilang rasa pedulinya dengan hidup ini, bodoamat.

Terbatas, itu semua karena terbatas. Di masa pandemi seperti ini, kita sangat terbatas untuk melakukan apa-apa. Tempat-tempat yang biasa dikunjungi tutup atau bahkan susah sekalipun bisa reservasi. Jarak sekian meter memisahkan keasyikan kita dalam berbincang membahas hiruk piuk dunia ini.

Atau sekadar bertanya sedang sibuk apa? Rasanya malas sekali jika dipisahkan jarak, seperti orang bego mengobrol dengan pita suara lebih dan mulut menganga agak besar. Aneh.

Apalagi pasangan. Biasanya mereka dempet-dempetan, saling pegangan tangan, tatap-tatapan secara dekat. Sekarang? Yah seperti gambaran di atas yang sudah ku bilang.

Bukan maksud ingin mengeluh atau tidak ingin berusaha. Tapi sudah 7 bulan ini usaha telah dilakukan dan hasilnya adalah rasa malas. Bukan maksud ingin menyalahkan pihak lain. Ini murni curahan hati dan sepenggal cerita dari kenyataan banyak orang. Orang yang terbatas geraknya, yang cemas akan virus, yang terancam jika melanggar protokol.

Jadi, kembali lagi ke layar, bersosial media, bermalas-malasan, bermain game, menonton video di YouTube hingga bosan dan kehabisan stock video karena creatornya juga jadi jarang upload. Huft. Tapi mau bagaimana lagi?

(Visited 23 times, 1 visits today)

Leave A Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *