Tradisi Galau di Masa SMA

“Masa SMA itu masa yang paling indah.”


Begitu kata kebanyakan orang. Tapi emangnya bener? Nggak juga, walaupun untuk kebanyakan orang masa SMA itu masa paling indah di hidupnya, tidak jarang juga gua temuin temen gua yang banyak kurang bahagianya daripada bahagianya. Ada juga yang kelewat bahagia.

Tapi bahagia itu apa?

Setelah mencari definisi bahagia di Google dan ngebukain satu-satu situs teratas — sekaligus baca — akhirnya berujung di Wikipedia. Menurut Wikipedia Kebahagiaan atau kegembiraan adalah suatu keadaan pikiran atau perasaan yang ditandai dengan kecukupan hingga kesenangan, cinta, kepuasan, kenikmatan, atau kegembiraan yang intens. Berbagai pendekatan filsafat, agama, psikologi, dan biologi telah dilakukan untuk mendefinisikan kebahagiaan dan menentukan sumbernya.

Jadi begitu lah yaa. Hahahaha. Serius, pasti kalian juga sependapat kan sama Wikipedia? Atau punya pendapat atau definisi lain tentang kebahagiaan? Oke untuk mendapatkan definisi lain tentang bahagia, gua tanya salah satu temen gua.

“Menurut gua ji, sesuatu yang dikerjakan dengan hati dan hasilnya sesuai dengan hati (sesuai dengan apa yang kita mau)” definisi bahagia menurut R.A orang yang namanya nggak mau dipampang di sini.(27/6)

Jadi gua simpulin bahagia itu jika kita mengerjakan sesuatu dengan hati dan menghasilkan keadaan pikiran atau perasaan yang ditandai dengan kecukupan hingga kesenangan, cinta, kepuasan, kenikmatan, atau kegembiraan yang intens.

Jadi kenapa masa-masa SMA itu jadi masa yang paling bahagia?

First things first. CINTA. 7 dari 10 anak SMA Indonesia mengalami gigi berlubang, maksudnya jatuh cinta. Tapi data yang gua sajikan itu menurut gua. Nggak 100% akurat, lagian juga data dari BPS juga nggak 100% akurat, eh tapi emang ada yang meneliti jatuh cinta anak SMA? Ada! Barusan baca Tirto.id dan nemu siapa yang neliti.

Dia adalah… jeng jeng jeng Carver K. melalui penelitiannya pada 2003 menemukan bahwa sebagian besar anak usia 15 tahun telah memiliki hubungan romantis dengan lawan jenisnya. Dua belas tahun kemudian, penelitian tersebut dikembangkan lagi oleh Amanda Lenhart, Monica Anderson dan Aaron Smith dari Pew Research.

Mereka meneliti 1.060 anak rentang usia 13-17 tahun di Amerika dan menanyakan ehem hubungan romantis a.k.a pacaran antara mereka dan teman-temannya. Dari 1060 anak 35% mengaku telah mempunyai hubungan romantis dan sisanya 65% mengaku belum pernah punya hubungan romantis.

Dan gua yakin mereka 35% anak itu pernah galau dan patah hati. Bagaimanapun ketika dua orang menjalin hubungan yang mengarah ke pengikatan hati atau kata lainnya saling memiliki pasti ada saatnya mereka merasa kurang puas dengan apa yang diberikan oleh pacarnya.

Alhasil galau lah mereka, terganggu fokus belajar dan hal lainnya. Tapi anehnya, mereka nggak pernah kapok dan selalu ingin lagi melakukan hal tersebut(pacaran). Motivasinya berbeda-beda, karena ingin punya teman yang selalu ada jika dibutuhkan. Padahal mah nggak gitu. Karena hanya ingin punya pacar saja, dalam hal ini status sosial. Karena stigma teman-temannya, dll.

Walaupun ada juga yang berhasil survive dari kegalauan dan menjadikan hubungan mereka jadi lebih baik lagi, tapi banyak juga yang berujung dengan salah satu dari mereka pergi, entah kemana. Maksudnya putus. Yang kadang membuat orang yang diputusin itu ngejar-ngejar dan galau setiap saat 🙁 sangat menyedihkan.

Itulah mengapa pentingnya mencintai diri sendiri seblum mencintai orang lain. Bahagia itu kita sendiri yang buat, bukan orang lain yang melakukannya untuk kita, memang sering kali orang yang kita harapkan begini malah begitu. Maka dari itu mulailah mencintai diri sendiri.

Pacaran dan menjalin hubungan romantis itu tidak salah, yang salah adalah menyalahkan keadaan karena tindakan diri sendiri. Apasih. Sebelum menjalin hubungan, ketahui dulu konsekuensi yang akan terjadi dan bagaiman pencegahannya. Kayaknya serius banget ya.

Bukan dalam hal pacaran saja. Dalam menjalani kehidupan ini, sebelum melakukan sesuatu pertimbangkan terlebih dahulu, apa yang akan terjadi jika lo ngelakuin hal ini, itu, bla, bla, bla. Tapi juga jangan peduliin orang-orang yang nggak penting dalam hidup. Atur prioritas dengan bijak.

Jadi sebelum menjalin hubungan serius atau tidak, pertimbangkan dulu yaa kawan-kawan.

(27/6)

Referensi
Tirto.id – Anak Tumbuh Remaja, Cinta Monyet pun Bersemi
Wikipedia – Kebahagiaan

(Visited 1 times, 1 visits today)

1 Comment

  1. Pingback: Bukan Sembarang Bahagia – Ajireza.com

Leave A Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *